SUKU BADUY di PROVINSI BANTEN

Kalau ada ajakan mendadak pergi tuh ya, suka tergoda. Apalagi kalau yang ngajak temen-temen terdekat. Padahal sabtu rencananya lembur di kantor ahahahaha Batal donk karena ajakan ke Baduy. Tim Awanethniccraft berencana mengambil kain tenun dari supplier di Baduy. Makasih sahabatku sudah mengajak aku juga.

Baduy tuh hampir 4 jam dari area aku, Jakarta selatan. Ada beberapa opsi yang aku baca & dengar dari teman yang lebih dahulu kesana.

  1. Naik kendaraan sendiri, mobil atau motor ke arah Terminal Ciboleger.
  2. Naik kereta , turun di stasiun Rangkas dan disambung naik angkutan umum ke terminal rangkas atau carter juga bisa, lalu ke terminal ciboleger
  3. Naik bus pun bisa kok

Kebetulan kami naik mobil dan terjebak macet di Rangkas karena ada perbaikan Jalan dan stuck selama hampir 5 jam di titik itu saja, dekat stasiun Citeras. Pukul 5 sore sampai 11 malam. Mencari Jalan alternative ujung-ujungnya jalan keluarnya hanya 200 m dekat tempat kami stuck tadi hahahahhaha Kasian banget kan. Ya mau tak mau harus menginap di Rumah tante Uni QQ, di daerah dekat stasiun Rangkas. Baru paginya kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Ciboleger.

Terminal Ciboleger adalah gerbang selamat datang untuk menuju Kampung Wisata Adat Baduy. Ada patung selamat datang di tengah terminal. Jalan kaki sebentar lalu kita masuk ke kampong Wisata adat, Baduy Luar. Aku excited! Serius, ya gimana ya, aku belum pernah kesini, cuma baca-baca cerita Baduy.

 

Patung Selamat Datang Terminal Ciboleger

Kesan pertama, bersih ya. Baju yang dipakai sama semua coba. Jadi tidak ada kecemburuan sosial kan ya. Wah………… Cakep-cakep! Aslik! Khas wajah orang sunda pedalaman banget. Kulit mulus, kuning langsat dan wajah aduhai……. Pada lalu-lalang warganya tanpa alas kaki, rumah panggung sederhana tanpa listrik, such a lovely place. Yang wanita di teras Rumah sedang menenun menggunakan Alat Bantu Tenun sederhana bukan mesin. Hasilnya bagus sekali… cantik warnanya dan harga bervariasi. Kalau aku mungkin tak ingin jual murah, karena bikinnya susah huhuhuhu

Suasana Kediaman Suku Baduy Luar

 

  Teteh penenun supplier AEC Awanethniccraft

Transaksi jual beli kain tenun oleh tim AEC

Mereka ada dua suku, Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka bukan tertinggal, tetapi memilih sederhana.

Untuk Baduy Dalam

  • Tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan untuk transportasi
  • Tidak diperbolehkan menggunakan alas kaki
  • Dilarang menggunakan alat elektronik (teknologi)
  • Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri, tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.
  • Tidak memakai peralatan mandi berbahan kimia, listrik, dll dll
  • Rumah dibuat tanpa bantuan alat gergaji dll

Masyarakat Baduy Luar,

  • mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap
  • mengenal teknologi seperti handphone dan internet
  • membuat Rumah dibantu alat seperti gergaji dll

dan banyak lagi hal-hal yang menjadi pantangan mereka.

Mencoba pakaian adat Suku Baduy Luar

 Anak – anak Suku Baduy Dalam

Ketika makan bakso di dekat Terminal Ciboleger, ada anak-anak suku Baduy Dalam, sedang menonton TV dan fokus sekali. Aku terenyuh gitu,, berkaca-kaca. Asli.

Mereka hidup di Pulau Jawa, hidup sederhananya cukup. Aku ? beribu pikiran urusan dunia dipikir rumit. Malu sendiri, disentil secara tidak langsung. Aku sempat berfoto dan berkata,

“aku mau berkunjung ke Baduy Dalam dek”

“memangnya tadi darimana?”

“hanya di Baduy Luar. Ke atas berapa jam kira-kira kalau saya kesana?”

“kalau saya 1 jam (tanpa alas kaki)”

“kalau saya ?”

“5 jam” , alamak… 12 km ke atas sih….

Lalu ada adek yang bilang, “nanti ketemu lagi ya”

“insyaallah ya, saya ke Baduy Dalam.”

Semoga saya dapat berkunjung, segera. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *